Wednesday, May 13, 2015

Cara Menulis Resensi yang Baik dan Benar


Resensi adalah penilain buku atau timbangan buku yang diterbitkan di media massa oleh seoragan resentator untuk menginformasikan sebuah buku kepada khalayak ramai.


lambang resensi adalah sebuah timbangan dimana jika timbangan berat ke sebelah kiri maka buku tersebut akan laku keras, sebaliknya jika ke kanan maka akan tidak laku dan jika seimbang maka nuku tersebut biasa-biasa saja.

Cara Menulis Resensi

1. Identitas Buku

Identitas buku meliputi:
a. Judul buku
b. Pengarang
c. Penerbit
d. Tahun  terbit
e. Jumlah halaman
f. Harga buku

2. Isi buku

Cara pertama, point yang harus diperhatikan adalah:
a. Identitas (judul resensi)
b. Unsur intrinsik
c. Bahasa yang digunakan
d. Menambah wawasan atau tidak
e. Adanya ajakan
f.  Adanya kekuarangan atu Kelebihan buku.

Cara kedua yaitu dengan cara hanya menilai poin-poin tertentu saja.

Contoh Resensi

 Seperti Tikus Masuk Perangkap

Judul buku       :Jalan Tak Ada Ujung
Pengarang        :Mochtar Lubis
Penerbit           :Pustaka Jaya Jakarta
Tahun               :1971
Tebal halaman :140 halaman 

Jalan Tak Ada Ujung merupakan sebuah novel perang. Novel ini pernah mendapat penghargaan dari Badan Musyaearah Kebudayaan Nasional (BMKN) pada tahun 1952 sebagai novel terbaik. Novel ini banyak menyinggung segi kemanusiaan, kesengsaraan, dalam peperangan dan revolusi. Pendeknya ketakutan yang dikemukakan.

Dengan gayanya tersendiri Mochtar Lubis memulai cerita ini dengan judul yang puitis, ia menerangkan judul tersebut pada halaman awal yang dilanjutkan pada halaman 42 yang nampak dari perkataan Hazil,"... Saya sudah sejak semula bahwa jalan yang kita ini adalah jalan tak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempu. Mulai dari sini, terus, terus,terus tidak ada jungnya. Dimana ada ujungnya. Dimana ada ujung jalan perjuangan dan oerburuan manusia mencari bahagia? ..."

Tokoh utama novel ini yaitu guru Isa yang menyandang rasa takut sehingga menyiksa dirinya. Rasa takut ini terjadi pada waktu guru Isa menjadi kurir pengantar senjata dan surat-surat ke kota. Dikota ia bertemu dengan sorang pemuda yang memiliki semangat juang yang menyala namanya Hazil. Menurut mereka bahwa sesungguhnya mereka sama-sama berjuang, tetapi motif yang berbeda, Sesungguhnya guru Isa berjuang karena terpaksa dan penuh rasa takut sedangkan Hazil atas kemauan sendiri.

Rasa takut guru Isa yang begitu besar terlihat dengan jelas ketika ia menemukan pipa Hazil di bawah bantalnya. ternyata istrinya telah menghianatidirinya. Tetapi, guru Isa takut menanyakannya.

Jalan cerita novel ini memiliki variasai yang jontras dan mengikat majas perbandingan yang sangat dominan menghiasi novel ini,"Isa panik, merasa seperti tikus masuk perangkap".

Terlepas dari kekurangaan yang ada, hadirnya novel ini menambah hasanah novel Indonesia.
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

0 comments

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Note-Student | Share Science
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top